Rabu, 17 Februari 2016

Perbedaan Unsur Intrinsik Pada Hikayat dan Cerpen

Perbedaan Unsur Intrinsik Pada Hikayat dan Cerpen
            Pada umumnya hikayat dan cerpen memiliki beberapa perbedaan. Hikayat merupakan bentuk prosa lama dan cerpen merupakan bentuk prosa baru. Selain itu, tentunya hikayat dan cerpen juga memiliki perbedaan dalam unsur intrinsik dan entrinsik. Sebagai contoh adalah Hikayat berjudul Hang Tuah dan cerpen berjudul Keberanian Dre.
Hikayat Hang Tuah
Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak Hang Mahmud. Mereka bertempat tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang di Sungai Duyung mendengar kabar tentangg Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya.
Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama Dang Merdu,
”Ayo kita pergi ke Bintan, negri yang besar itu, apalagi kita ini orang yang yang miskin. Lebih baik kita pergi ke Bintan agar lebih mudah mencari pekerjaan.” 
Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah. Hang Mahmud pun terbangun dan mengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wangi-wangian. Siang harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada istri dan anaknya. Setelah mendengar kata suaminya, Dang Merdu pun langsung memandikan dan melulurkan anaknya. Setelah itu, ia memberikan anaknya itu kain,baju, dan ikat kepala serba putih. Lalu Dang Merdu memberi makan Hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam, ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan selamatan untuk Hang Tuah. Setelah selesai dipeluknyalah anaknya itu.
Lalu kata Hang Mahmud kepada istrinya,
”Adapun anak kita ini kita jaga baik-baik, jangan diberi main jauh-jauh.” Keesokan harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk persediaan. Lalu ada pemberontak yang datang ke tengah pasar, banyak orang yang mati dan luka-luka.
Orang-orang pemilik toko meninggalkan tokonya dan melarikan diri ke kampong. Gemparlah negri Bintan itu dan terjadi kekacauan dimana-mana. Ada seorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah,
” Hai, Hang Tuah, hendak matikah kau tidak mau masuk ke kampung.?” Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu,
”Negri ini memiliki prajurit dan pegawai yang akan membunuh, ia pun akan mati olehnya.” Waktu ia sedang berbicara ibunya melihat bahwa pemberontak itu menuju Hang Tuah sambil menghunuskan kerisnya. Maka ibunya berteriak dari atas toko, katanya,
”Hai, anakku, cepat lari ke atas toko!”
Hang Tuah mendengarkan kata ibunya, iapun langsung bangkit berdiri dan memegang kapaknya menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi.
Maka Hang Tuah pun Melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelalah kepala orang itu dan mati.
Maka kata seorang anak yang menyaksikannya,”Dia akan menjadi perwira besar di tanah Melayu ini.”
Terdengarlah berita itu oleh keempat kawannya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekui. Mereka pun langsung berlari-lari mendapatkan Hang Tuah. Hang Jebat dan Hang Kesturi bertanya kepadanya,
”Apakah benar engkau membunuh pemberontak dengan kapak?” Hang Tuah pun tersenyum dan menjawab,”Pemberontak itu tidak pantas dibunuh dengan keris, melainkan dengan kapak untuk kayu.”
Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri adanya sang Hang Tuah.  Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja. Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai-pegawai lain yang juga iri hati kepada Hang Tuah. Setelah diskusi itu, datanglah mereka ke hadapan Sang Raja. Maka saat sang Baginda sedang duduk di tahtanya bersama para bawahannya, Tumenggung dan segala pegawai-pegawainya datang berlutut, lalu menyembah Sang Raja,
“Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat, ada banyak berita tentang penghianatan yang sampai kepada saya. Berita-berita itu sudah lama saya dengar dari para pegawai-pegawai saya.”
Setelah Sang Baginda mendengar hal itu, maka Raja pun terkejut lalu bertanya,
“Hai kalian semua, apa saja yang telah kalian ketahui?”

Maka seluruh menteri-menteri itu menjawab, “Hormat tuanku, pegawai saya yang hina tidak berani datang, tetapi dia yang berkuasa itulah yang melakukan hal ini.”
Maka Baginda bertitah, “Hai Tumenggung, katakana saja, kita akan membalasanya.”
Maka Tumenggung menjawab, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat, untuk datang saja hamba takut, karena yang melakukan hal itu, tuan sangat menyukainya. Baiklah kalau tuan percaya pada perkataan saya, karena jika tidak, alangkah buruknya nama baik hamba, seolah-olah menjelek-jelekkan orang itu.”
 Setelah Baginda mendengar kata-kata Tumenggung yang sedemikian itu, maka Baginda bertitah,
“Siapakah orang itu, Sang Hang Tuah kah?” Maka Tumenggung menjawab,
“Siapa lagi yang berani melakukannya selain Hang Tuah itu.
Saat pegawai-pegawai hamba memberitahukan hal ini pada hamba, hamba sendiri juga tidak percaya, lalu hamba melihat Sang Tuah sedang berbicara dengan seorang perempuan di istana tuan ini. Perempuan tersebut bernama Dang Setia. Hamba takut ia melakukan sesuatu pada perempuan itu, maka hamba dengan dikawal datang untuk mengawasi mereka.
” Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya berwarna merah padam. Lalu ia bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu,
“Pergilah, singkirkanlah si durhaka itu!” Maka Hang Tuah pun tidak pernah terdengar lagi di dalam negri itu, tetapi si Tuah tidak mati, karena si Tuah itu perwira besar, apalagi dia menjadi wali Allah.
Kabarnya sekarang ini Hang Tuah berada di puncak dulu Sungai Perak, di sana ia duduk menjadi raja segala Batak dan orang hutan. Sekarang pun raja ingin bertemu dengan seseorang, lalu ditanyainya orang itu dan ia berkata,
“Tidakkah tuan ingin mempunyai istri?” Lalu jawabnya, “Saya tidak ingin mempunyai istri lagi”.




Cerpen Keberanian Dre
Dre adalah seorang anak laki laki yang baik dan ramah, dia juga suka membantu orang lain. Teman temannya juga menyukai Dre, dia juga sering membantu temannya yang ketinggalan pelajaran.
Walaupun begitu, Dre juga memiliki banyak kekurangan. Ia takut gelap. Ia takut binatang.  Ia juga takut pergi sendiri ke kedai di ujung rumahnya sekalipun.
“Dre, aku punya 5 ekor anak kucing yang lucu. Aku kasih kamu seekor ya!”
“Dre, nanti malem kita jalan-jalan bareng ya di alun-alun!”
Teman-teman Dre tahu, Dre sangat takut pada bulu kucing yang berbulu kucing.
Ibu Dre pernah berkata, “Tidak apa-apa memiliki rasa takut. Orang yang paling berani pun juga pasti ada rasa takutnya. Orang yang menjadi berani itu tidak harus berani selamanya, tapi mereka menjadi berani ketika saat harus berani. Kalau kamu mencoba mengalahkan salah satu ketakutanmu, Dre, kamu akan menjadi anak yang paling berani.”
Dre hanya menunduk menggelengkan kepalanya. Ia tidak yakin apakah bisa mengalahkan rasa takutnya itu.
Suatu hari, Tante Dina, adik Ibu datang ke rumah Dre.
“Dre, kamu mau nggak, temani Tante di rumah? Soalnya suami Tante lagi ada acara keluar kota,” kata Tante Dina dengan wajah memelas.
Tante Dina memang sedang hamil tua. Sebentar lagi ia akan melahirkan. Itulah alasannya, ia takut di tinggal sendirian. Dre malah gembira diajak tinggal di rumah Tante Dina. Ia juga senang sebab rumah Tante Dina dekat dengan sekolahan Dre. Jadi cukup jalan kaki saja, malah biar bisa menghemat ongkos kendaraan Dre.
Tiba-tiba Tante Dina mengetuk pintu kamar Dre.
“Dre, Tante minta tolong, Nak!” padahal Dre sudah persiapan mau tidur.
“Ada apa, Tante?” tanyanya sambil mengantuk.
“Dre, tolong carikan taksi atau ojek, ya. Biasanya mangkal di ujung jalan perumahan ini.” Tante Dina sambil memegang perutnya dengan meringis kesakitan.
“Haaaa, Tante mau melahirkan? Aku telponkan taksi ya.” Usul Dre
“Tidak, Dre. Harus sekarang.” Terangnya
Terpaksa Dre harus mencari kendaraan. Ya ampunn..sial benar aku! Jengkel Dre di dalam hati.
Malam ini sepertinya lebih gelap daripada biasanya. Anjing tetangganya juga menggonggong saat Dre lewat di depan gerbang, untung saja pintu gerbang itu dikunci.
Seketika itu jantung Dre berdebar kencang. “Aku harus berani! Umurku sudah 10 tahun! Aku tidak takut pada apa pun!” teriaknya. Ia juga teringat pesan ibunya pada waktu itu, bila ia bisa mengalahkan rasa takutnya, ia adalah anak yang paling berani. Tetapi itu terasa sulit baginya. Dre, kemudian ingat Tante Dina. Ya, Tante Dina sedang mengandalkannya! Menyadari hal itu, tiba-tiba tumbuh keyakinan dalam diri Dre. Ia mulai berlari tanpa menoleh. Lambat laun pangkalan taksi sudah terlihat diujung perumahan. Ia segera naik ke salah satu taksi. Ia lalu menjemput Tante Dina dengan taksi dan mengantarnya ke rumah sakit.
Keesokannya..
“Kamu benar-benar anak pemberani, Dre. Kalau bukan karena kamu bayiku bisa lahir dirumah,” ujar Tante Dina sambil menggendong bayi perempuannya.
Dre lalu tersenyum malu. Ia benar-benar tidak enak atas pujian itu. Ibu tersenyum sambil mengelus-elus kepalanya.
Sulit sekali menjadi pemberani, apalagi mengalahkan ketakutannya sendiri. Tetapi Dre yakin, dia pasti berani dengan kucing yang berbulu lembut. Bukankah dia sudah berani mencarikan tantenya kendaraan di tengah malam yang gelap?

Unsur Intrinsik Hikayat Hang Tuah
Tema: Keberanian
Hang Tuah mendengarkan kata ibunya, iapun langsung bangkit berdiri dan memegang kapaknya menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi.
·     Tokoh :
1. Hang Mahmud : Pekerja keras dan pantang menyerah
”Ayo kita pergi ke Bintan, negri yang besar itu, apalagi kita ini orang yang yang miskin. Lebih baik kita pergi ke Bintan agar lebih mudah mencari pekerjaan.” 
2.Dang Merdu : Penyayang dan baik hati
Dang Merdu pun langsung memandikan dan melulurkan anaknya. Setelah itu, ia memberikan anaknya itu kain,baju, dan ikat kepala serba putih. Lalu Dang Merdu member makan Hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam, ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan selamatan untuk Hang Tuah.
3.Hang Tuah : Pemberani dan bijaksana.
Maka Hang Tuah pun Melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelalah kepala orang itu dan mati.
Hang Tuah pun tersenyum dan menjawab,”Pemberontak itu tidak pantas dibunuh dengan keris, melainkan dengan kapak untuk kayu.”
4.Temanggung: Licik
. Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai-pegawai lain yang juga iri hati kepada Hang Tuah.
5. Raja: Pemarah dan mudah terprovokasi
Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya berwarna merah padam.
Latar:
a. Tempat
Sungai duyung
Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak Hang Mahmud. Mereka bertempat tinggal di Sungai Duyung.
Pasar
Lalu ada pemberontak yang datang ke tengah pasar, banyak orang yang mati dan luka-luka.
Kampung
Orang-orang pemilik toko meninggalkan tokonya dan melarikan diri ke kampong.
Istana
Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja.
b. Waktu
Malam hari
Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit.
Siang hari
Siang harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada istri dan anaknya.

Alur: Alur maju
Sudut Pandang: orang ke 3 serba tahu
Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak Hang Mahmud. Mereka bertempat tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang di Sungai Duyung mendengar kabar tentangg Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya.

Gaya Bahasa: Penulis menggunakan bahasa daerah yang masih bisa dipahami oleh pembaca pada umumnya.
Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai-pegawai lain yang juga iri hati kepada Hang Tuah. Setelah diskusi itu, datanglah mereka ke hadapan Sang Raja. Maka saat sang Baginda sedang duduk di tahtanya bersama para bawahannya, Tumenggung dan segala pegawai-pegawainya datang berlutut, lalu menyembah Sang Raja.
Amanat:
a.Terus berusaha dan berjuang meskipun banyak cobaan
”Ayo kita pergi ke Bintan, negri yang besar itu, apalagi kita ini orang yang yang miskin. Lebih baik kita pergi ke Bintan agar lebih mudah mencari pekerjaan.” 
b.Berani menghadapi berbagai jenis masalah yang ada
Hang tuah pun langsung bangkit berdiri dan memegang kapaknya menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi.Maka Hang Tuah pun Melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelalah kepala orang itu dan mati.
c. Jangan Mudah marah dan terprovokasi kalau belum ada buktinya
” Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya berwarna merah padam. Lalu ia bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu.

Unsur Intrinsik Keberanian Dre      

Tema: Keberanian
Seketika itu jantung Dre berdebar kencang. “Aku harus berani! Umurku sudah 10 tahun! Aku tidak takut pada apa pun!” teriaknya. Ia juga teringat pesan ibunya pada waktu itu, bila ia bisa mengalahkan rasa takutnya, ia adalah anak yang paling berani.
Tokoh:
1. Dre: Baik, ramah dan pemberani
Dre adalah seorang anak laki laki yang baik dan ramah, dia juga suka membantu orang lain.
“Aku harus berani! Umurku sudah 10 tahun! Aku tidak takut pada apa pun!” teriaknya.
2. Ibu: Pengertian dan selalu memberi nasehat
“Kalau kamu mencoba mengalahkan salah satu ketakutanmu, Dre, kamu akan menjadi anak yang paling berani.”
3. Tante Dina: Baik hati
“Dre, kamu mau nggak, temani Tante di rumah? Soalnya suami Tante lagi ada acara keluar kota,” kata Tante Dina dengan wajah memelas.
Latar:
a. Tempat
Kedai
Dre juga memiliki banyak kekurangan. Ia takut gelap. Ia takut binatang.  Ia juga takut pergi sendiri ke kedai di ujung rumahnya sekalipun.
Rumah
Suatu hari, Tante Dina, adik Ibu datang ke rumah Dre.
Rumah sakit
Ia lalu menjemput Tante Dina dengan taksi dan mengantarnya ke rumah sakit.

b. Waktu
Malam hari
Malam ini sepertinya lebih gelap daripada biasanya. Anjing tetangganya juga menggonggong saat Dre lewat di depan gerbang, untung saja pintu gerbang itu dikunci.
Alur: Alur maju
Sudut pandang: Orang ke 3 serba tahu.
Dre adalah seorang anak laki laki yang baik dan ramah, dia juga suka membantu orang lain. Teman temannya juga menyukai Dre, dia juga sering membantu temannya yang ketinggalan pelajaran.
Walaupun begitu, Dre juga memiliki banyak kekurangan. Ia takut gelap. Ia takut binatang.  Ia juga takut pergi sendiri ke kedai di ujung rumahnya sekalipun.

Gaya bahasa: Penulis menggunakan bahasa Indonesia yang sudah cukup baik seperti bahasa sehari-hari dan sangat mudah dimengerti oleh pembacanya.
Dre, kemudian ingat Tante Dina. Ya, Tante Dina sedang mengandalkannya! Menyadari hal itu, tiba-tiba tumbuh keyakinan dalam diri Dre. Ia mulai berlari tanpa menoleh. Lambat laun pangkalan taksi sudah terlihat diujung perumahan. Ia segera naik ke salah satu taksi. Ia lalu menjemput Tante Dina dengan taksi dan mengantarnya ke rumah sakit.
Amanat:
a. Jadilah orang pemberani yang dapat mengalahkan rasa takut.
“Aku harus berani! Umurku sudah 10 tahun! Aku tidak takut pada apa pun!” teriaknya. Ia juga teringat pesan ibunya pada waktu itu, bila ia bisa mengalahkan rasa takutnya.
b. Jadilah orang baik yang suka menolong orang yang sedang dalam kesulitan.
Ya, Tante Dina sedang mengandalkannya! Menyadari hal itu, tiba-tiba tumbuh keyakinan dalam diri Dre. Ia mulai berlari tanpa menoleh.






Selasa, 01 September 2015


Menguak Kenyamanan Alam Baka




Judul Buku: The Lovely Bones
Penulis: Alice Sebold
Alih Bahasa: Gita Yuliani K
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Editor: Lanny Murtihardjana
Jumlah Halaman: 440 Halaman
Cetakan: April 2008
ISBN: 978-979-22-3656-9
           
            Mungkin semua orang bertanya-tanya bagaimana rasanya hidup dengan nyaman di alam baka. Alice Sebold menuangkannya di buku ini. Alice Sebold merupakan seorang penulis kelahiran Amerika yang telah menulis tiga buku yang berjudul Lucky, The Almost Moon dan The Lovely Bones. Diantara kedua bukunya tersebut The Lovely Bones dianggap paling menarik karena menggunakan bahasa yang menarik dan sederhana. Sementara itu, buku ini juga dikemas dengan tatap muka yang unik dan tidak biasa.
            Buku ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis belia bernama Susie Salmon yang masih berumur 14 tahun harus menghadapi kenyataan pahit. Dia diperkosa dan dimutilasi  yang mayatnya dikubur tepat di depan rumahnya. Kematiannya menyisakan persoalan diantara kedua orang tuanya dan mengguncang ikatan pernikahan mereka. Namun, semua bisa teratasi karena kehadiran adik Susie bernama Lindsey.
            Di dalam Novel ini, Susie menceritakan bagaimana matanya melihat semua kejadian tragis pada dirinya termasuk pelaku pembunuhan terhadap dirinya. Semua dilihatnya dari alam baka. Alam dimana Susie hanya mampu melihat dan tak bisa menyentuh apapun. Meskipun hanya sekedar memberitahukan kepada orang tuanya. Siapa sangka jika pembunuh tersebut bukanlah orang jauh atau sama sekali tidak dikenalnya. Bahkan seluruh keluarganya juga mengenal pembunuhnya. Diceritakan bahwa jenazah Susie tak ditemukan dan keluarganya terus mencari. Susie juga melihat dari alam baka bagaimana teman-temanya terus menjadikannya sebagai bahan pembicaraan. Dan sang pembunuh terus menghilangkan jejaknya.
            Alam baka dianggap Susie sebagai tempat yang nyaman dimana dia dapat menyaksikan kehidupan keluarga, teman, pacar dan teman-temannya di dunia,” sekarang aku berada di tempat yang kusebut surga yang luas sekali karena meliputi semua hasratku yang sederhana tetapi juga yang paling bersahaja dan paling hebat, aku menyebutnya dengan kenyamanan”. Disana dia tidak sendiri Susie ditemanin oleh teman-temannya yang juga telah dipanggil ke alam baka. Mereka setiap hari menghabiskan waktunya dengan menyaksikan suramnya kehidupan di dunia. Susie terus memperhatikan kehidupan seluruh keluarga dan teman-temannya. Awalnya yang terjadi pergejolakan dalam kehidupan keluarganya karena kematian dirinya semakin membaik dengan mencoba mengulang kehidupan yang baru. Teman-temannya juga sudah semakin dewasa dan telah mendapatkan kesuksesannya masing-masing. Adiknya yang telah menikah dan mendapat profesi yang layak dan pacarnya yang semakin menjadi lebih baik dan berwibawa dengan menikahi sahbatnya. Susie sangat bahagia melihat semua itu dan dalam setiap lantunan doanya dia selalu saja mengucapkan,”kudoakan kalian semua panjang umur dan hidup bahagia”.
            Buku ini memang sangat menarik bagi orang-orang yang masih membayangkan bagaimana nyamannya kehidupan di alam baka. Buku ini terdiri dari 23 bab yang mengandung korelasi yang sangat kuat diantaranya babnya. Apabila salah satu bab ada yang hilang maka cerita akan mengambang dan susah untuk dimengerti. Buku ini juga dikemas secara rapi dan sistematis terbukti tidak terdapat kesalahan dalam hal percetakkan.
            Selain terdapat kelebihan yang banyak, tentunya buku ini juga terdapat beberapa kelemahan. Diantaranya adalah, buku ini merupakan buku translate yang terkadang antar kalimatnya tidak bisa dimengerti dan tidak nyambung. Selain itu, hal-hal yang dibahas dalam buku ini sangat luas tidak focus pada satu hal. Buku ini sangat ditujukan kepada remaja beranjak dewasa karena didalamnya terkandung kisah-kisah yang diantaranya dialami remaja.
“Renungan mendalam tentang barbagai cara bagaimana kesedihan dan kehilangan yang menyakitkan bisa ditebus dengan cinta dan penerimaan”. Alice Sebold

            

Kamis, 14 Mei 2015



Asal Mula Selat Nasi
            Selat nasi adalah sebuah selat yang memanjang lurus dari timur ke barat membelah pulau Subi kecil dan pulau Subi besar, yang terletak di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Menurut cerita, keberadaan selat Nasi ini disebabkan oleh ulah Datuk Kaya yang menghamburkan nasi basi di pulau Subi
***
Alkisah, di daerah Natuna, Kepulauan Riau, terdapat sebuah pulau bernama pulau Subi yang dikuasai oleh seorang Datuk Kaya. Sang Datuk Kaya mempunyai seorang istri yang bernama Cik Wan dan seorang putri cantik nan rupawan yang bernama Nilam Sari. Ia adalah seoarang gadis yang rajin, berbudi pekerti luhur, dan tidak angkuh. Dalam pergaulan sehari-hari ia juga tidak membedakan antara si kaya dan si miskin untuk dijadikan teman. Tidak heran jika orang-orang disekitarnya sangat kagum terhadap perangainya. Kapan dan dimanapun orang berkumpul, pasti mereka membicarakan dirinya.
Pada suatu hari, sekelompok pedagang dari Palembang singgah di pulau Subi. Secara tidak sengaja mereka mendengar percakapan orang-orang kampung di pulau tersebut tentang kecantikan dan keelokan perangai Nilam Sari. Kemudian dari mulut ke mulut cerita itu pun tersebar di kalangan masyarakat Palembang dan akhirnya sampai pula ke telinga permaisuri raja Palembang.
Mendengar cerita itu permaisuri pun bercita-cita menjadikan Nilam Sari sebagai menantunya. Hingga pada suatu malam permaisuri menyampaikan niatnya kepada sang putra yang bernama Demang Aji Jaya. Demang Aji baru saja menuntut ilmu ke sana kemari dari Malaka, Jawa, Cina hingga negeri Pathani Siam. Mendengar ungkapan bundanya tersebut Demang Aji bersedia untuk menikah dengan Nilam Sari. Alangkah senang hati sang bunda mendengarkan pernyataan putranya. Ia pun langsung menyampaikan kabar gembira tersebut ke raja. Dan sang raja pun setuju dan segera menyebarkan berita tentang pernikahan putranya dengan Nilam Sari.
Keesokan harinya keluarga istana sibuk mempersiapkan segala hantaran dan hadiah-hadiah sebagai hantaran pernikahan. Sang raja pun menunjuk beberapa orang cerdik untuk menyampaikan lamaran dan beberapa nahkoda berpengalam untuk menahkodai kapal menuju pulau Subi.
Setelah semuanya siap, para utusan raja Palembang berangkat menuju pulau Subi untuk menyampaikan lamaran Demang Aji Jaya kepada Nilam Sari. Sesampainya di pulau Subi, utusan raja Palembang yang diwakili seorang juru bicara menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka dengan beberapa untaian pantun. Untaian pantun yang berisi lamaran tersebut kemudian dibalas oleh keluarga Datuk Kaya dengan untaian pantun pula.
Singkat cerita, lamaran Demang Aji Jaya diterima oleh keluarga Datuk Kaya. Kedua belah pihak menentukan hari perkawinan kedua calon mempelai pengantin. Melalui musyawarah mufakat, mereka pun menentukan hari perkawinan sekaligus naik ke pelaminan jatuh pada hari kesepuluh bulan Syafar.
Waktu berjalan begitu cepat. Sepekan lagi hari kesepuluh bulan Syafar akan datang. Para penduduk pulau Subi mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan penyambutan rombongan mempelai laki-laki dari negeri Palembang. Mulai dari menegakkan selasar(rumah sambung), memotong puluhan sapi dan kambing juga memotong ratusan ayam, memasak dan mengkukus kue, menggulai dan merendang daging sebagai lauk-pauk. Tepat hari kesepuluh bulan Syafar keperluan penyambutan telah siap. Nasi berdandang-dandang dan lauk berdulang-dulang telah terhidang. Nilam Sari juga telah dirias dengan busana indah dan menawan.
Keluarga Datuk Kaya dan Nilam Sari sudah tidak sabar lagi menanti kedatangan sang pangeran. Namun , hingga hari menjelang siang rombongan pengantin laki-laki juga belum terlihat. Datuk Kaya mulai gelisah dan mondar-mandir sambil memegangi jenggotnya. Cik Wan mencoba menenangkan suaminya. Datuk Kaya pun berusaha untuk bersabar dan besikap tenang. Hingga hari menjelang malam rombongan pengantin laki-laki juga belum terlihat. Datuk kaya semakin gelisah dan kesabarannya mulai goyah.
Datuk Kaya dan penduduk pulau Subi terus menunggu hingga hari ke tiga belas bulan Syafar. Pada hari itu arak-arakan pengantin laki-laki tiba juga di pulau Subi. Tanpa menunggu lagi, kedua mempelai segera dinikahkan dan didudukan bersanding di atas pelaminan. Demang Aji Jaya menyampaikan kepada Nilam Sari bahwa rombongan mereka terlambat datang karena terhadang oleh badai yang ganas sehingga mereka harus menepi dahulu di sebuah pulau.
Cik Wan mulai bingung bagaimana cara menjamu mereka. Nasi berdandang-dandang dan lauk berdulang-dulang sudah basi. Lalu, Cik Wan bertanya kepada Datuk Kaya, ia mengatakan bahwa biarkan saja orang Palembang tersebut memakan jamuan yang sudah basi tersebut, ini akibat mereka telah mengingkari janji. Namun, Cik Wan keberatan dia berpendapat bahwa rombongan raja Palembang terserang badai yang besar . Namun, Datuk Kaya tetap teguh pada pendiriannya dan menghidangkan makanan basi kepada tamunya.
Melihat sikap suaminya tersebut Cik Wan mengancam suaminya jika tidak mengindahkan permintaanya Cik Wan meminta untuk pisah ranjang. Datuk Kaya tidak takut dan bahkan dia menyatakan cerai dengan Cik Wan sambil menghambur-hamburkan nasi tersebut sehingga membentuk garis panjang seakan membelah pulau Subi menjadi dua bagian.
Beberapa saat setelah Datuk Kaya menghamburkan nasi basi tersebut, tiba-tiba terdengar kilat meyambar-nyambar disertai angin kencang dan hujan deras. Air laut pun bergulung-gulung menghantam pulau Subi. Pulau Subi pun terbelah menjadi dua bagian, satu disebalah utara dan satu disebelah selatan. Pulau Subi kecil(di bagian utara) milik Cik Wan dan pulau Subi besar (di sebelah selatan ) milik Datuk Kaya. Pulau tersebut terbelah oleh sebuah selat yang memanjang dari timur ke barat. Oleh masyarakat setempat selat itu diberi nama selat Nasi, karena keberadaanya disebabkan oleh hamburan nasi ileh Datuk Kaya.
***
Budi Pekerti
Pesan moral yang dapat kita ambil dari cerita tersebut adalah kita sehendaknya jangan egois dan selalu masukan dan pendapat orang lain yang mana pendapat orang tersebut mungkin ada benarnya juga. Dan juga akibat buruk dari sifat kurang dewasa dalam menghadapi permasalahan. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan tindakan Datuk Kaya yang tidak menyelidiki ketrlambatan rombongan pengantin laki-laki.

Jumat, 24 April 2015



JERITAN BISU KAMILA

Desa itu hanyalah desa biasa yang banyak ditumbuhi oleh pohon cendana. Tidak ada hal menarik yang terdapat di desa itu, semua terlihat layaknya desa pada umumnya. Masyarakat hidup damai dan tenteram melakukan aktifitas manusiawi yang membosankan. Cikodok merupakan panggilan untuk desa tersebut. Cikodok merupakan sebuah desa yang terdapat di perbatasan antara Jakarta dan Jawa Barat. Desa yang dipimpin oleh seorang kepala desa yang terkenal dengan kewibawaannya. Pak Jono masyarakat desa menyebutnya, seorang yang terlahir dengan kepedulian sosial sangat tinggi yang mudah berbaur dengan masyarakatnya. Banyak sekali pendatang yang menetap di desa Cikodok. Salah satunya adalah Kasim yang memiliki bentuk tubuh sangat ideal, dia merupakan pemuda yang sedang mencari pekerjaan. Kasim merupakan putra sulung dari lima bersaudara. Ayahnya sudah lama meninggal sementara ibunya hanya seorang penjual kue yang harus menafkahi lima anaknya. Hal itu yang mendorong kemauan Kasim untuk meringankan beban ibunya. Kasim dan masyarakat sekitar tampak sangat bersahabat, padahal dia baru saja beberapa hari menetap disini. Beberapa masyarakat masih ingin mengenal lebih jauh tentang Kasim dan menanyakan tentang kehidupannya.
“Kamu asal mana  Kasim” seorang tukang sayur penasaran.
“Saya asli Ciawi pak, tapi lama menetap di Madiun“ ujar Kasim..
“Jadi kamu kesini untuk mencari pekerjaan?” ucap seorang ibu-ibu
“Iya bu saya ingin meringankan beban ibu saya” kata Kasim.
“Emang kamu mau cari pekerjaan yang gimana Kasim, sekarang ini untuk mencari pekerjaan itu sudah sangat sulit“ lanjut ibu-ibu tersebut
“Pekerjaan apapun deh bu, asalkan pekerjaan tersebut halal“ ujar Kasim.
Melihat keramaian tersebut pak Jono menghampirinya, dan dia melihat ada Kasim yang merupakan penduduk baru desa tersebut. Pak Jono segera membawanya untuk mengisi administrasi kependudukan. Setibanya di kantor kepala desa terjadi perbincangan antara pak Jono dan Kasim.
“Kamu sedang mencari pekerjaan sim?“ ujar pak Jono.
“Iyanih pak , kira-kira bapak punya pekerjaan gak buat saya?“ kata Kasim.
“Coba deh, kamu ketemu sama pak Anu katanya dia sedang mencari tenaga tambahan untuk menyelesaikan rumahnya“ lanjut pak Jono.
“Makasih banyak pak,“ kata Kasim girang.
“Iya sim sama- sama, kita itu sebagai mahkluk sosial harus saling membantu satu sama lainnya“ celoteh pak Kasim.
Kasim segera bergegas menuju ke rumah pak Anu untuk melamar kerja. Setelah melakukan pembicaraan yang cukup panjang akhirnya Kasim diterima sebagai kuli tambahan untuk menyelesaikan rumah pak Anu.
***
Dua minggu bekerja, Kasim merasa sudah tidak kerasan lagi untuk bekerja disana. Akhirnya dia berhenti bekerja sebagai kuli bangunan. Sejak berhenti bekerja, pemuda tersebut menjadi pengangguran. Namun, usaha yang tidak pantang menyerah terus dilakukannya, sudah banyak pekerjaan yang Kasim lamar tetapi usaha tersebut sia-sia, sampai sekarang Kasim belum juga mendapat pekerjaan. Hal ini membuat pria tampan tersebut menjadi frustasi. Dia harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang berada di kampung dan juga harus menyambung hidup disini. Suatu hari Kasim dengan tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki wajah sangat menawan. Setelah melakukan beberapa celotehan, perempuan yang bernama Lisa tersebut menawarkan sebuah pekerjaan kepada Kasim.
“Mas Kasim sedang mencari pekerjaan bukan?“ ujar perempuan tersebut.
“Iya mbak, kalo mbak punya pekerjaan saya mau menerimanya“ balas Kasim.
“Dengan postur badan mas yang seperti ini sebenarnya mudah untuk mencari pekerjaan. Sebenarnya saya memiliki sebuah pekerjaan yang cocok sekali untuk mas Kasim“ lanjut perempuan itu.
“Benarkah mbak, pekerjaan apakah itu?“ Kasim penasaran.
“Pekerjaan ini sebenarnya hina namun halal, kita akan pergi ke kota metropolitan Jakarta dan mas Kasim akan menjadi banci“ kata perempuan tersebut.
“Aduuh…gimana ya, ini adalah jalan terakhir bagi saya. Baiklah mbak saya menerima pekerjaan tersebut” Kasim pasrah.
Kasim dan mbak Lisa bergegas ke rumah mbak Lisa untuk memenuhi perlengkapan Kasim menjadi seorang banci. Sesampainya disana ternyata sudah banyak lelaki lain yang memilih jalan yang sama dengan Kasim. Lisa memberikan pakaian perempuan, alat rias dan juga buntalan untuk membuat payudara palsu. Lisa juga memberikan Kasim nama yang baru sebagai banci yaitu Kamila.
***
Kasim rela menjual rembulan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Keesokan malamnya Lisa dan Kamila menuju Jakarta demi mencari nafkah. Kamila atau akrab dipanggil Kasim telah menyiapkan perlengkapan diri sebagai seorang banci. Sesampai di alun-alun kota yang biasa menjadi tempat berkumpulnya para banci, Kamila pun mulai beraksi dengan kemampuan apa adanya Kamila mencoba mencari perhatian pria-pria yang haus akan nafsu. Dengan bentuk tubuh dan wajah yang rupawan, sebenarnya Kasim begitu cantik untuk menjadi Kamila. Hingga pada akhirnya sebuah mobil menghampiri Kamila dan mengajaknya untuk masuk. Sebenarnya Kamila sangat malu untuk melakukan hal tersebut tetapi apa mau dikata penghasilan yang didapat juga sangat besar dengan menjadi seorang banci.
Setiap malam Kamila melakukan pekerjaan tersebut. Tidak terasa sudah dua bulan Kamila melakukannya. Dia dapat mengirimkan uang yang lumayan untuk keluarganya di kampung dengan pekerjaan barunya sebagai seorang banci. Seringnya Kamila menjadi seorang banci membuat hubungan antara Kasim dan masyarakat desa Cikodok menjadi renggang. Tampaknya Kamila mulai ketagihan dengan pekerjaan  yang hina ini, namun didalam lubuk hati paling dalam sebenarnya Kamila ingin berhenti menjadi seorang banci tetapi ia tidak bisa menghindarinya lilitan ekonomi penyebabnya. Kamila sudah berusaha keras mencari pekerjaan lain tapi sepertinya takdir memaksanya agar menjadi seorang banci.
Seperti malam lainnya Kamila kembali menjadi banci untuk mencari nafkah. Namun malam ini ada yang berbeda, ditengah keramaian malam Kamila bertemu dengan pak Jono yang sedang ada urusan di Jakarta. Kamila sangat terkejut mendapati bahwa pak Jono tahu dirinya adalah Kasim.
“Kasim.. apa yang kamu lakukan disini“ sahut pak Jono.
“Anu.. saya sedang bekerja pak“ kata Kasim.
“Jadi selama ini kamu sudah jarang terlihat hanya untuk melakukan pekerjaan hina ini Kasim“ lanjut pak Jono.
“Hanya pekerjaan inilah yang dapat meringankan beban ekonomi keluarga saya pak. Saya sudah berusaha mencari pekerjaan lain namun gagal terus pak“ pemuda tersebut mengeluh.
“Sebenarnya kegagalan itu adalah cara tuhan untuk mengajari kita tentang pantang menyerah dan terus berusaha sim“ nasehat pak Jono.
“Iya pak, saya tahu saya sudah berusaha keras untuk meninggalkan pekerjaan ini tapi tidak bisa, sepertinya ini sudah takdir saya untuk menjadi Kamila bukan Kasim“ ujar Kasim.
“Terserah katamu Kasim, bapak hanya mendoakan yang terbaik buat kamu“ lanjut pak Jono.
Pak Jono segera meninggalkan Kasim sendirian. Mulai malam itu Kamila atau akrab dipanggil Kasim sudah tidak tampak lagi di desa. Mungkin dia tidak sadar akan pekerjaan hina tersebut atau mungkin dia sadar tapi dengan berbagai faktor dia tidak mau meninggalkan pekerjaan tersebut. Entahlah siapa yang tahu, terpenting dia lebih memilih menjadi Kamila ketimbang menjadi Kasim.
Sudah terlalu lama cerita tersebut sampai pada telingaku. Pak Jono yang menceritakannya, aku selalu terbayang dengan kisah pilu Kamila tersebut. Mungkin saja Kamila terus berusaha keras untuk mengubah takdirnya, tapi entahlah. Aku hanya bisa berharap bahwa jangan sampai terjadi kisah Kamila kedua.